Assessment In The New Normal Era, Ini Saran dari Pakar Pendidikan

  Asesmen pembelajaran di era new normal mendapat perhatian khusus oleh para pakar Penelitian Evaluasi dan Pendidikan (PEP). Melalui seminar nasional online pada 13 Juni 2020 yang diadakan oleh Himpunan Evaluasi Pendidikan UKD Jawa Tengah bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Semarang, hadir beberapa pakar PEP sebagai narasumber, yakni  Prof. Kumaidi, M.A., Ph.D., selaku Ketua Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) Jawa Tengah, Prof. Dr. Anak Agung Gede, M.Pd. selaku Ketua P3M Universitas Pendidikan Ganesha, dan Prof. Dr. Fakhruddin, M.Pd. selaku Rektor Universitas Pancasakti Tegal serta dekan FMIPA Universitas Muhammadiyah Semarang selaku moderator.
Dari ketiga pemateri webinar, masing-masing mengungkapkan pendapatnya tentang model-model asesmen yang dapat dijadikan sebagai alternatif dalam melakukan asesmen pembelajaran di era new normal. Menurut Prof. Kumaidi, M.A, Ph.D., bahwa asesmen pembelajaran yang dilakukan di era new normal tetap harus menyesuaikan asesmen pembelajaran tatap muka, sehingga para pengajar dituntut untuk kreatif dan inovatif mencari model asesmen yang sesuai dengan era new normal namun tetap memperhatikan prinsip dasar asesmen yang akuntabel dan hasilnya valid untuk berbagai keputusan kelas maupun sekolah. Beberapa model asesmen yang disarankan beliau adalah penggunaan proyek work, tugas akhir pembelajaran, dan portofolio kegiatan belajar siswa. Ketiga alternatif model asesmen tersebut cukup mudah dilakukan oleh para guru namun memiliki kekurangan terutama pada penggunaan proyek work dan tugas akhir pembelajaran yang hanya menekankan pada hasil belajar semata sementara asesmen pembelajaran sebaiknya mencakup proses belajar dan capaian belajar, sehingga beliau menyarankan untuk menggunakan e-assessment yang bernama historista.
Website historista yang disarankan beliau merupakan hasil penelitian oleh seorang doktor dibidang sejarah yang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif dalam melakukan asesmen pembelajaran di era new normal. Walaupun background bidang sejarah namun dapat juga digunakan oleh pengajar di bidang lain, seperti matematika, biologi, kimia, dan lain-lain. Historista ini memiliki beberapa kelebihan, yakni selain mendukung peer assessment, self assessment, juga mendukung penilaian berbasis komunitas dan yang paling penting adalah website ini mendukung konsep merdeka asesmen yang dapat diakses dimana, kapan, dan oleh siapa saja. Website tersebut dapat diakses melalui alamat URL di  www.historista.id. Sedangkan menurut Prof. Anak Agung Gede, M.Pd., bahwa sebelum memilih model asesmen pembelajaran di era new normal sebaiknya memperhatikan beberapa hal,yakni mengutamakan literasi dan numerasi seperti yang dituntut oleh Assessment dan Numerasi (AKM), mengoptimalkan asesmen yang berbasis unjuk kerja, dan menghindari pemilihan tugas-tugas individu yang bisa ditiru oleh siswa. Ketiga hal tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk video, blog, portofolio, dan diary. Dari keempat model asesmen yang disebutkan oleh beliau, diary merupakan model asesmen yang jauh lebih menarik dibandingkan ketiga model asesmen tersebut sebab, dapat melatih mahasiswa untuk menulis jurnal tentang kegiatan pembelajaran apa saja yang dilakukan selama mengikuti perkuliahan, selain itu menurut hemat penulis dengan diary juga dapat melatih mahasiswa berpikir kritis dan sekaligus menambah perbendaharaan kata.
Lain halnya dengan Prof. Dr. Fakhruddin, M.Pd. yang menyarankan agar guru seharusnya membangun sikap positif dalam belajar dan membangkitkan rasa ingin tahu siswa serta mendorong kemandirian dan menciptakan kondisi-kondisi sukses dalam belajar walaupun dalam kelas virtual sehingga agar semua poin tersebut dapat terwujud maka salah satu model asesmen yang dapat digunakan adalah kuis interaktif. Salah satu kelebihan kuis interaktif adalah bentuk pertanyaannya dapat berupa pilihan ganda atau essay. Adapun dalam penerapannya sangat fleksibel karena dapat dilaksanakan dalam jaringan atau secara online untuk mengukur pemahaman siswa terhadap konsep yang telah dipelajari.
Berdasarkan pendapat dari ketiga pemateri, penulis menyimpulkan bahwa model-model  asesmen yang disarankan para pakar pendidikan berbeda-beda, namun tetap pada tujuan yang sama yaitu diharapkan bagaimana para pengajar, guru atau dosen mencari model asesmen yang tepat di era new normal agar asesmen pembelajaran yang dilaksanakan tetap memenuhi standar quality of assessment,yakni valid dan akuntabel.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain Sekaligus Bermatematika

SEMINAR PROGRAM KERJA MAHASISWA KKN POSKO 79 DESA PANYILI KABUPATEN BONE TAHUN 2025

Quotes 1