Bermain Sekaligus Bermatematika
Tulisan kali akan mengulas tentang
beberapa permainan tahun 90-an yang memiliki manfaat dalam melatih motorik dan
kognitif anak usia Sekolah Dasar khususnya melatih kemampuan berhitung yakni penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan
pembagian pada bilangan bulat dan juga melakukan pengukuran pada bidang datar. Nama-nama
permainan tradisional ini juga akan ditulis sesuai dengan sebutan untuk daerah
masing-masing, sebab permainan tradisional ini memiliki nama-nama yang berbeda
ditiap daerah.
Pertama, Maggalasyeng.
Di daerah saya khususnya Kecamatan Tellulimpoe Kabupaten Sinjai, Maggalasyeng
adalah salah satu jenis permainan tradisional tahun 90-an yang sangat diminati
anak-anak seusia saya dahulu. Permainan ini juga disebut Congklak atau dakon
oleh suku Jawa. Dalam permainan ini, sebenarnya ada alat khusus yang digunakan,
yaitu papan dakon dan biji-bijian tetapi bukan Desa kalau segala kebutuhan bisa
dengan mudah diperoleh. Karena sulitnya diperoleh alat permainan tersebut maka
saat itu saya hanya menteknisinya menggunakan alat yang tersedia dan cukup sederhana, yang mana
kita hanya perlu membuat garis berbentuk segiempat di tanah datar menggunakan
kapur atau dilantai rumah sebanyak 16 buah, dengan 14 garis segiempat kecil saling
berhadapan dan 2 garis segiempat besar dikedua sisinya dan mengambil batu-batu
kecil sebanyak 98 biji yang mengisi 14 buah garis segiempat kecil. Pada awal
permainan setiap garis segiempat kecil diisi dengan 7 buah batu-batu kerikil. Sebelum
kedua orang yang berhadapan bermain diawali dengan melakukan hompimpa yakni suatu
cara menggunakan telapak tangan untuk menentukan siapa yang akan terlebih
dahulu menjalankan permainan. Bagi yang menang maka ia berhak menjalankan
permainan dengan memilih satu garis segiempat yang telah terisi batu-batu kecil
sebanyak 7 buah lalu meletakkan satu buah batu kecil di sebelah kanannya dan
seterusnya. Permainan selesai ketika semua batu-batu kecil terkumpul di garis
segiempat besar dan pemenangnya adalah yang mendapatkan batu-batu kecil
terbanyak.
Dalam proses permainan tradisional
ini sangat terlihat jelas bahwa terdapat unsur-unsur matematika yang berperan
di dalamnya. Anak-anak harus bisa menghitung yakni melakukan penjumlahan dan
pengurangan bilangan bulat, nampak jelas pada saat menentukan jumlah batu kecil
tiap garis segiempat baik yang masih utuh 7 buah batu kecil atau saat sudah
bertambah atau pada saat menghitung jumlah batu-batu kecil ketika jadi
pemenang. Operasi perhitungan yang lain juga sebenarnya dapat bekerja yakni
perkalian. Ketika anak-anak mengambil batu-batu kecil untuk dikumpulkan. Mereka
bisa dengan cepat menghitung bahwa akan ada 98 batu-batu kecil yang akan
mengisi garis segiempat nanti sebab terdapat 14 buah garis segiempat kecil yang
dapat diisi 7 buah batu-batu kecil berarti 14 x 7 = 98 buah batu-batu kecil.
Kedua,
Mabbelle. Salah satu namanya yang cukup popular di Indonesia adalah
engklek. Namun di daerah saya terkenal dengan nama Mabbelle. Disebut mabelle karena permainan ini menggunakan pecahan
piring atau botol dan bentuknya datar. Tujuannya agar tidak menggelinding pada
saat di lempar digaris petak-petak yang telah digambar oleh pemain bentuknya
mirip dengan jaring-jaring kubus atau balok. Permainan ini juga diawali dengan
hompimpa. Yang berhak melempar duluan pada media yang telah dibuat adalah yang
menang pada saat hompimpa. Pada awal permainan ini pemain melempar sesuai
kehendaknya ke garis petak-petak yang telah dibuat. Setelah itu mengangkat
salah satu kaki lalu melompat mengelilingi petak-petak yang ada dan tidak boleh
menginjak petak yang ada pecahan piringnya. Pemain yang telah menyelesaikan
satu putaran berhak memilih satu petak sebagai rumahnya dan hal itu berarti
lawannya tidak boleh menginjak petak tersebut tetapi pemiliknya boleh menginjak
menggunakan sepasang kakinya. Permainan berakhir ketika pemain memiliki rumah
pada petak-petak terbanyak.
Dalam proses permainan tradisional ini selain
kemampuan motoric yang terlatih alias anak secara tidak langsung berolahraga
juga melatih kemampuan kognitifnya. Secara tidak langsung anak yang bermain telah
belajar tentang geometri yakni pengukuran. Anak-anak menggambar petak-petak di
tanah yang hampir mirip dengan jaring-jaring kubus/balok berarti anak tersebut
telah melakukan pengukuran pada bidang datar yakni persegi, persegi panjang,
dan setengah lingkaran.
Ketiga,
Mabuang-buang. Permainan tradisional ini juga cukup terkenal di era tahun
90-an. Dalam permainan ini kita cukup berbekal karet gelang lalu mencari dinding
tembok yang permukaannya memiliki sisi agak kedalam yang dapat digunakan agar
karet yang dibuang cukup jauh sekitar 2 meter dapat berdiri tegak. Peserta permainan
ini bisa dilakukan 2 sampai 3 orang. Tinggi rendahnya karet yang berdiri
tergantung dari cara pemain membuang karetnya.Pemenang dalam permainan ini
adalah mereka yang karetnya selalu berdiri lebih tinggi ukurannya dibanding
pemain lainnya.Dalam proses permainan ini sebenarnya anak-anak juga secara
tidak langsung melakukan pengukuran dan perhitungan yakni penjumlahan dan
pengurangan.
Dan masih banyak lagi permainan tradisional lainnya
yang memiliki manfaat dalam melatih kemampuan bermatematika anak yang belum dapat
di ulas oleh penulis. InsyaAllah pada tulisan berikutnya. Harapannya ke depan, walaupun
kita sekarang berada di era teknologi yang super canggih, mari kita selaku orang tua
memperkenalkan permainan tradisional ini agar anak-anak kita tidak melupakan warisan
budaya bangsa Indonesia yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan dan ilmu
pengetahuan.
Mantap dinda
BalasHapusSyukron Ibu selalu memotivasi
Hapus