Guru Inspiratif itu adalah Ayah dan Ibuku

Ayah dan Ibuku adalah seorang guru swasta di sebuah sekolah bernama MTs Al Azhar Mannanti Kabupaten Sinjai yang letaknya kurang lebih 6 km dari rumah kami. Setiap hari mereka berangkat pukul 7:30 WITA ke sekolah dengan mengendarai sebuah sepeda motor butut milik sang Ayah yang biasa saya juluki si jago oranges Fiz R. Demi sebuah amanah dan tanggung jawab yang diembannya, mereka berjuang agar anak didik mereka berhasil dalam menempuh pendidikan di sekolah tersebut. 
MTs Al Azhar Mannanti di kenal sebagai sekolah tempat berkumpulnya para siswa yang nakal, bandel, tidak patuh pada peraturan sekolah, dan juga kebanyakan merupakan siswa pindahan dari sekolah lain. Pun kadang diketahui ada juga siswa yang harusnya di masukkan di sekolah luar biasa (SLB)  namun tetap diterima di sekolah tersebut agar sekolah tersebut juga memiliki banyak siswa yang tentunya memberikan sedikit keuntungan secara material oleh guru-guru yang mengabdi di sekolah itu. Berdasarkan aturan dari pemerintah, semakin banyak siswa yang bersekolah di sebuah sekolah semakin banyak juga gaji honorer yang bisa di berikan kepada guru-guru yang mengabdi. Walaupun diketahui sebagai sekolah yang berada di naungan yayasan yang harusnya gaji itu di berikan dari pengelolah yayasan namun tidak terjadi demikian, gaji yang di peroleh para guru berasal dari dana Bos yang di kelola oleh bagian keuangan sekolah. Sedikit banyaknya yang diperoleh oleh para guru tergantung jumlah jam mengajarnya dan tentu hal itu berpengaruh besar pada banyaknya siswa yang mendaftar di tahun ajaran baru. 
Meskipun, kondisi sekolah yang serba terbatas baik sarana dan prasarana maupun managemen pengelolaan sekolah yang masih jauh dari kesempurnaan, kedua orang tua kami tetap teguh mengemban amanah demi masa depan generasi penerus bangsa. 
Usia yang tidak muda itu, mereka masih tetap berjuang baik hak maupun kewajibannya sebagai guru. Di usia mereka yang telah memasuki kepala Lima harus juga berjuang mengasah otak agar mereka melek teknologi. Setiap waktu, ketika kami anak-anaknya pulang dari tempat kerja, selalu meminta kami untuk mengajari mereka bagaimana mengoperasikan komputer dan menggunakan telephone genggam. 
Ibu, pada tahun 2018 baru memenuhi panggilan untuk mengikuti pelatihan sertifikasi guru di usia 54 tahun di Surabaya tepatnya di kampus Universitas Negeri Surabaya. Untuk pertama kalinya naik pesawat dan berkomunikasi via whatsapp dengan teman-teman dari luar sulawesi. Ibu yang tidak melek teknologi itu dan di kelas merupakan peserta pelatihan sertifikasi guru yang paling tua usianya dan paling enjoy mengikuti pelatihan walaupun tugas dan ujian berat yang membuatnya harus mengulang sampai 3 kali. Di tahun 2019,barulah pengumuman kelulusan itu ada, syukur alhamdulillah itu katanya. Pengalaman luar biasa yang diperolehnya di Surabaya lalu di terapkan di dalam kelas, bagaimana membuat para siswa termotivasi belajar dan senang dengan pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. 
Pengabdian kepada negara yang hampir 20 tahun itu, berhasil meluluskan banyak peserta didik mulai dari yang kemampuannya di bawah standar sampai berprestasi. 
Ya namanya Fandi salah satu siswa kesayangan dan kebanggaan Ibu dan Ayah kami. Berkat bimbingan  dan motivasi mereka, Fandi berhasil meraih juara olyimpiade nasional di tingkat provinsi. Fandi dikenal sebagai anak yang penurut, rajin, dan memiliki motivasi belajar yang tinggi walaupun kondisi kehidupan ekonomi keluarganya yang sangat memprihatinkan. Namun tak membuatnya pupus harapan untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Perjalanan dari rumah ke sekolah yang sangat jauh tak membuatnya menyerah walaupun dengan berjalan kaki. Motivasi yang diberikan dari Ayah dan Ibu untuk berjuang demi hidup yang berkualitas menambah semangatnya untuk terus sekolah dan berprestasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain Sekaligus Bermatematika

SEMINAR PROGRAM KERJA MAHASISWA KKN POSKO 79 DESA PANYILI KABUPATEN BONE TAHUN 2025

Quotes 1